Sinergi Dhamma dan Etika, Pabbaja Samanera dan Atthasilani
Halo Sobat Buddhi!
Liburan akhir tahun ini, Sekolah Perguruan Buddhi dan Universitas Buddhi Dharma menghadirkan pengalaman spiritual yang tak terlupakan melalui program Pabbaja Samanera Sementara dan Upasika Ratana. Program ini diselenggarakan bersama Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI) memberikan kesempatan kepada para peserta sebagai pelatihan moral dan spiritual serta sebagai bentuk pengenalan kehidupan monastik dalam agama Buddha.
Selasa, 17 Desember 2024 para peserta samanera berkumpul untuk melakukan pendaftaran ulang, pengukuran tinggi badan dan berat badan, pengecekan kesehatan, dan menerapkan delapan sila. Hari berikutnya, mereka memasuki babak baru dalam perjalanan spiritual mereka dengan mencukur rambut dan alis sebagai simbol untuk meninggalkan keduniawian dan melepas kemelekatan. Sebelum resmi menjadi samanera sementara, para peserta bersama orang tua/wali melakukan pradaksina, berjalan mengitari daerah Perguruan Buddhi sebanyak satu kali putaran. Suasana haru terasa pada saat para orang tua menyerahkan jubah sebagai simbol untuk menjalani kehidupan suci.
Pada Rabu, 25 Desember 2024 dilaksanakan prosesi Pindapatta dan Sanghadana yang dihadiri lebih dari 200 anggota Bhikkhu Sangha dan Samanera. Pindapatta berasal dari bahasa Pali, yang berarti menerima dana makanan, sedangkan patta merupakan mangkuk yang digunakan oleh para Bhikkhu Sangha. Tradisi pindapatta ini mengajarkan agar hidup sederhana dan bergantung kepada kerendahan hati. Kebahagiaan ini berlangsung sampai sore, saat lebih dari 100 calon Upasika Ratana menasbihkan dirinya untuk menjalankan delapan sila. Mereka melakukan permohonan delapan sila dan menerima jubah putih dari Bhikkhu Sangha, simbol kesucian dan komitmen mereka untuk menjalani kehidupan sederhana.
Sore hari di tanggal 28 Desember 2024, para Bhikkhu, samanera, upasika ratana, dan umat berkumpul bersama untuk melaksanakan acara Sanghadana, bermeditasi, dan menyalakan lilin kedamaian untuk mengingat jasa Sang Buddha yang tak terhitung jumlahnya. Malam yang penuh berkah ini menyelimuti lapangan kebajikan saat bermeditasi bersama, merenungkan ajaran Buddha, dan memanjatkan doa untuk kedamaian dunia. Keesokan harinya, para samanera dan Upasika Ratana melaksanakan Thudong, mereka berjalan dengan penuh kesadaran. Kegiatan Thudong ini diiringi dengan dilaksanakannya kembali tradisi pindapatta kepada para Bhikkhu dan samanera. Hal ini disambut baik oleh para umat yang ingin berbuat kebajikan, dan melepas keserakahan dengan cara berdana.
Setiap harinya, para samanera dan Upasika Ratana melaksanakan chanting pagi dan sore, latihan bermeditasi, mendengarkan Dhammadesana yang dibabarkan oleh para Bhikkhu, menjaga pikiran dan perkataan, melaksanakan kegiatan tepat waktu, dan mengerjakan tugas harian yang harus diselesaikan.
Program Pabbaja Samanera Sementara dan Upasika Ratana bukan hanya sebuah program pelatihan spiritual, tetapi merupakan kesempatan emas untuk menuangkan fokus dalam memahami cita moralitas Buddhisme di mana siswa/i akan mengikuti berbagai kegiatan seperti mempelajari tentang ajaran Buddha secara mendalam, melakukan praktik moralitas, dan meditasi sebagai sarana untuk melatih kedisiplinan rohani.
Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan penuh semangat dan dedikasi untuk mencapai pencerahan dan kebahagian sejati.
Ditulis oleh Padma Ratna & Jacqueline Kevina Wijaya Cen
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini