Perayaan Festival Cap Go Meh yang Penuh Warna
大家好!Namo Buddhaya. Pada tanggal 11 Februari 2025, Perkumpulan Boen Tek Bio mengadakan festival yang sangat amat dinantikan oleh masyarakat etnis Tionghoa, yaitu Festival Cap Go Meh, yang diadakan di Auditorium Vipasi. Sebelumnya, apa yang kalian ketahui tentang Cap Go Meh? Cap Go Meh merupakan akhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang dilakukan tiap tanggal 15 pada bulan penanggalan Tionghoa atau 2 minggu setelah Tahun Baru Imlek. Festival Cap Go Meh ini mengusung tema “Bersama dalam Moderasi Merajut Kerukunan Multikultural”. Pada kesempatan kali ini, Perkumpulan Boen Tek Bio mengundang Ibu Dr. (H.C) Dra. Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum (Ibu Negara Republik Indonesia ke - 4), Bapak Dr. Nurdin, S.Sos., M.Si. (Bapak PJ Walikota Tangerang), dan tokoh-tokoh penting lainnya.
Festival ini dihadiri oleh siswa/i dari SMA dan SMK Perguruan Buddhi, Sekolah Setia Bakti, serta mahasiswa Universitas Buddhi Dharma, yang menampilkan penampilan luar biasa. Acara ini dipandu oleh Mr. Dr. Serius Zebua, S.Pd, M.Pd, CPS. Sebelum dimulai, seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa bersama sebagai bentuk penghormatan. Selanjutnya, kata sambutan pertama disampaikan oleh Dr. Ruby Santamoko, S.Ag, M.M.Pd., selaku Ketua Badan Pengurus Perkumpulan Boen Tek Bio. Beliau membuka sambutannya dengan sebuah pantun : “Makan ikan ditemani sayur capcai, Lebih nikmat sambil nonton barongsai, Saya ucapkan Gong Xi Fa Cai, Semoga segala cita cita Bapak Ibu tercapai.” Beliau mengingatkan kepada kita semua agar kita selalu mengingat dan menghargai sejarah bangsa Indonesia. Umat Tionghoa dapat merayakan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh dengan bebas berkat kebijakan Presiden RI ke-4, yaitu Bapak K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur),
yang mendukung perbedaan perayaan dan tradisi. Ini menunjukkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan serta saling menghormati antar sesama warga negara. Beliau juga berharap semoga di tahun Ular Kayu ini, Indonesia selalu di dalam keadaan sejahtera, damai, rukun, dan kita semua diberikan kesehatan. Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Dr. Nurdin, S.Sos., M.Si., yang merupakan Bapak PJ Wali Kota Tangerang. Beliau turut berbahagia dapat menghadiri Festival Cap Go Meh ini. Mengapa demikian? Karena perayaan ini mencerminkan kelebihan dari merayakan kebersamaan dan keberagaman Indonesia di Kota Tangerang. Beliau juga menekankan bahwa Kota Tangerang, sebagai kota lintas agama dan lintas budaya, telah membangun kerukunan yang sangat solid dan berkontribusi secara maksimal dalam kehidupan kenegaraan Indonesia. Sambutan terakhir disampaikan oleh Ibu Dr. (H.C) Dra. Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum., sebagai Ibu Negara Republik Indonesia ke-4. Beliau menyampaikan pesan bahwa kita semua merupakan bangsa Indonesia. Sejak pencabutan instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 oleh Presiden Gus Dur, masyarakat Tionghoa dapat kembali mendapatkan kebebasannya dan bisa merayakan Tahun Baru Imlek dengan leluasa melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000. Tidak sampai disitu, Presiden Gus Dur juga menindaklanjuti keputusannya dengan menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional.
Festival Cap Go Meh 2025 resmi dibuka oleh Ibu Negara Republik Indonesia ke-4 dengan menabuh tambur didampingi oleh Bapak PJ Wali Kota Tangerang dan Ketua Badan Pengurus Perkumpulan Boen Tek Bio. “Selamat menikmati Festival Cap Go Meh 2025 di Kota Tangerang”, ujar Ibu Negara Republik Indonesia ke-4. Festival dimulai dengan penjelasan sejarah Cap Go Meh yang disampaikan melalui penampilan drama dan penampilan yang sangat menarik lainnya. Penampilan pertama merupakan Tari Bunga Tambur yang menggunakan lagu berjudul “好一个花鼓灯 (Hǎo yīgè huāgǔ dēng) - 祖海 (Zǔ Hǎi)”.
Selesainya penampilan tersebut, disisipkan penjelasan bagaimana terbentuknya Cina Benteng di Kota Tangerang. Masyarakat Cina Benteng mulai datang dan menetap pada abad ke-15 ketika orang Tionghoa tiba di muara Sungai Cisadane. Pemukiman pertama yang mereka bangun berada di Teluk Naga dan mereka berasimilasi dengan penduduk lokal Sunda dan Melayu. Pada saat abad ke-18, terjadi gelombang migrasi besar dari Tiongkok ke wilayah ini. Ketika orang Tionghoa melarikan diri dari Batavia pada tahun 1740 ke Kota Tangerang, mereka mendirikan pemukiman baru, yang kita sebut dengan Cina Benteng. Mereka menjalani kehidupan sebagai petani, pedagang, nelayan, dan buruh sederhana. Dalam lembar kisah tersebut, ada si Aben (Aa Benteng), pemuda yang baik hati dan mudah bergaul. Aben penasaran dengan keberagaman budaya masyarakat Tionghoa. Ia melihat pertunjukan selanjutnya, yaitu Wushu. Wushu merupakan seni berperang dan bela diri yang berasal dari Cina. Gerakannya begitu cepat dan lincah seperti seseorang sedang menari menggunakan alat yang mirip dengan pedang. Wah, keren banget ya! Setelah selesai melihat pertunjukan Wushu, Aben melihat cewe-cewe cantik yang ingin latihan menari. Tarian yang akan ditampilkan kepada penonton adalah Tari Lenggang Cisadane dari Kota Tangerang. Seni tari ini memadukan berbagai unsur budaya didalamnya, seperti budaya Sunda, Betawi, Melayu, bahkan Budaya Tionghoa. Musik pengiring tari tersebut berupa perpaduan gamelan, gambang kromong, dan marawis. Dengan musik yang teralun, mengisyaratkan begitu indahnya keberagaman budaya dalam setiap kehidupan. Pertunjukan selanjutnya akan mempersembahkan Gambang Kromong. Gambang Kromong lahir dari perpaduan antara budaya Tionghoa dan Betawi, menjadikannya unik dan kaya akan seni. Judul lagu yang dinyanyikan adalah “Kicir-Kicir” dan “Dayung Sampan”. Pertunjukan kelima akan menampilkan paduan suara oleh tim choir SMA Perguruan Buddhi. Mereka membawakan lagu “明天会更好 (Míngtiān huì gèng hǎo)” dan “恭喜恭喜 (Gōngxǐ gōngxǐ)” dengan suara-suara yang merdu, memberikan pesan penuh harapan dan kegembiraan. Selanjutnya, pertunjukan keenam adalah Ta ri Lampion 一家亲 (Yījiā qīn), yang menggambarkan kedekatan dan keharmonisan keluarga. Pertunjukkan terakhir akan melibatkan seluruh peserta yang mengisi festival ini, yaitu yang menyanyikan lagu “恭喜恭喜 (Gōngxǐ gōngxǐ)” sebagai penutup yang meriah.
Festival ditutup dengan pemberian cinderamata berupa alat musik tehyan untuk Ibu Dr. (H.C) Dra. Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M. Hum. Alat musik tehyan ini berasal dari Kota Tangerang dan merupakan alat musik tradisional etnis Tionghoa yang menghasilkan nada-nada tinggi. Biasanya, tehyan dimainkan bersama alat musik lainnya dalam gambang kromong.
“Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik kepada semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” - K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Ditulis oleh : Gisela Stephanie
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini