DHARMA MENJAGA PERDAMAIAN DUNIA
Halo, Sobat Buddhi! Namo Buddhaya.
Pada Rabu, 10 Juni 2026, para siswa/i SMA Perguruan Buddhi berkumpul di Auditorium Vipassi untuk merayakan kegiatan Waisak 2570 BE. Waisak merupakan hari suci terpenting dalam agama Buddha yang memperingati tiga peristiwa agung (Trisuci Waisak) dalam kehidupan Siddharta Gautama, yaitu: kelahiran, pencapaian penerangan sempurna (menjadi Buddha), dan wafatnya Buddha (Parinibbana).
Pada perayaan Waisak ini, para siswa/i serta staf dan guru memakai atasan kemeja putih dan celana hitam. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Anna Carolina. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan prosesi puja yang mempersembahkan dupa, lilin, air, bunga, buah, dan manisan sebagai bentuk menghormati ajaran Sang Buddha, membersihkan batin dari keserakahan, dan melatih kemurahan hati.

Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan dari Ketua Panitia Perayaan Waisak oleh Edy Kurniawan, S.E., M.M., yang menyatakan bahwa acara ini dihadiri oleh 1.046 orang. Selanjutnya, choir SMA Perguruan Buddhi menyanyikan lagu “Malam Suci Waisak” dan “Selamat Hari Suci Waisak”, kemudian diteruskan dengan sambutan oleh Dr. Ruby Santamoko, S.Ag., M.M.Pd., M.M., dilanjutkan dengan pembacaan Dhammapada ayat 182 dan 186 Buddhavagga oleh Graciella Adeline, Lalita Indivara, dan Yuliana.
Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan paritta, meliputi Aradhana Pancasila dan Namakara Gatha. Selanjutnya, Bhikkhu Sangha memimpin pembacaan Visakha Puja Gatha, Buddhanussati, Dhammanussati, dan Sanghanussati. Setelah pembacaan paritta selesai, peserta mengikuti sesi meditasi dengan objek Mettabhavana yang dipandu oleh Bhikkhu Sangha sebagai sarana untuk mengembangkan cinta kasih universal, menenangkan pikiran, serta memperkuat kualitas batin.

Usai meditasi, YM. Bhikkhu Ganabho menyampaikan dhammadesana mengenai sepuluh perbuatan tidak bermanfaat (akusala kamma) yang sebaiknya dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menjelaskan bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sepuluh perbuatan tidak bermanfaat tersebut meliputi: membunuh makhluk hidup, mengambil barang yang bukan haknya, melakukan penyimpangan dalam perilaku nafsu indria, berbohong, mengucapkan kata-kata kasar, memfitnah, berbicara sia-sia, memiliki keserakahan atau ketamakan, memelihara kebencian dan kemarahan, serta menganut pandangan yang keliru.
Dalam penjelasannya mengenai larangan membunuh makhluk hidup, YM. Bhikkhu Ganabho mengisahkan cerita Koka Sang Pemburu sebagai contoh akibat dari tindakan yang merugikan makhluk lain. Beliau juga menjelaskan bahwa umat Buddha diperbolehkan mengonsumsi daging dengan syarat tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mencurigai bahwa makhluk tersebut dibunuh secara khusus untuk dirinya.
Melalui dhammadesana tersebut, para peserta diajak untuk senantiasa mengembangkan perilaku yang baik, menjaga ucapan dan pikiran, serta menerapkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari demi terciptanya kebahagiaan dan kedamaian bagi semua makhluk.
Setelah dhammadesana berakhir, acara dilanjutkan dengan penyerahan Amisa Puja kepada Bhikkhu Sangha sebagai wujud penghormatan dan ungkapan terima kasih atas bimbingan Dhamma yang telah diberikan. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap kemurahan hati (dana) dalam kehidupan beragama.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian blessing oleh Samanera Lankaravaso, Samanera Ariyalankaro, dan YM. Bhikkhu Ganabho. Setelah pemberian blessing selesai, Bhikkhu Sangha, Samanera Ariyalankaro, dan Samanera Lankaravaso meninggalkan Ruang Dhammasala dengan diiringi sikap hormat dari seluruh peserta yang hadir.
Sebagai penutup, seluruh peserta bersama-sama membacakan paritta. Pembacaan paritta penutup menjadi akhir dari rangkaian Perayaan Waisak 2570 BE di SMA Perguruan Buddhi yang berlangsung dengan khidmat, tertib, dan penuh makna. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat memahami serta mengamalkan nilai-nilai luhur ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Ditulis oleh Lady Gabriel Yulianto dan Nathania Ratna Claretta
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini