BERITA

Detail Berita

Bersatu Melawan Kekerasan Melalui Seminar Bersama DP3AP2KB

Minggu, 27 Oktober 2024 19:22 WIB
66 |   -

Halo sobat Buddhi! Pada tanggal 21 Oktober 2024, SMA Perguruan Buddhi mengadakan Seminar Anti Kekerasan bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB). Seminar ini tentunya menyampaikan berbagai informasi yang bermanfaat bagi siswa/I yang mengikutinya. Kira-kira apa saja informasi yang disampaikan?

Sebelum pemaparan materi, acara dibuka oleh  Bapak Akhmad Riyanto, S.Pd.Ing sebagai pewara dan pembacaan doa oleh Bapak Andreas, S.E, S.Ag, M.Pd.B dengan harapan acara akan berjalan dengan baik dan ilmu yang disampaikan dapat bermanfaat. Selanjutnya, sambutan oleh direktur utama Perguruan Buddhi yaitu Bapak Edy Kurniawan, S.E, M.M. Beliau menyampaikan bahwa “kekerasan tidak terlepas dari 4 hal, yaitu kekerasan fisik, psikis, sosial, dan seksual.” Ibu Ir. Retno Widyastuti, M.M selaku kepala sekolah SMA Perguruan Buddhi juga turut memberikan kata sambutan. “Kegiatan ini adalah bentuk kerja sama sekolah dengan DP3AP2KB yang akan memaparkan materi terkait, istilah anti kekerasan untuk saat ini perlu ditekankan karna siswa/I SMA Perguruan Buddhi adalah aset negara yang tidak boleh dilepas begitu saja.” Ujar beliau.

Saatnya kita masuk ke penyampaian materi oleh Bapak Wilopo Tetuko Sigit, S.T. selaku Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Hak Anak DP3AP2KB Kota Tangerang. Bapak Wilopo menjelaskan perihal kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya penderitaan secara fisik, perasaan, seksual, dan penelantaran. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut yaitu:

1. Kekerasan fisik:  Memukul, mencubit, menampar, dan menendang.

2. Kekerasan psikis: Mengejek, membentak, mengancam, mempermalukan, dan meremehkan.

3. Kekerasan seksual: Mencium, memegang area kemaluan, memperlihatkan alat kelamin, dan mempertontonkan gambar/video porno.

4. Kekerasan penelantaran & eksploitasi: Tidak diberi makanan bergizi, tidak memberikan tempat tinggal dan pakaian yang layak, tidak diizinkan sekolah, dan mempekerjakan anak.


Dalam materinya, beliau mengajak kita untuk berani berkata “tidak”, menghindar atau pergi ke tempat yang aman, meminta bantuan orang yang bisa dipercaya dan melaporkan kepada PUSPAGA (Pusat Layanan Keluarga) karena pelaku mungkin saja dari orang terdekat, perbuatan yang diam-diam, dan memiliki masalah kesehatan mental yang tidak tertangani. Dampak dari kekerasan adalah menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga, depresi, merasa takut sendirian, dan merasa tidak punya masa depan. Maka dari itu, Bapak Wilopo menghimbau kita untuk tidak menjadi pelaku kekerasan dan dapat menjaga diri, serta berani untuk melaporkannya.

 

Setelah penyampaian materi mengenai kekerasan dan upaya pencegahannya, para siswa/I SMA Perguruan Buddhi diberikan waktu istirahat dengan disajikannya roti dan minuman sebagai pendampingnya. Seminar dilanjutkan dengan penambahan materi serta sesi tanya jawab oleh Bapak Tito Chairil Yustiadi, S, H. Selaku kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). Bapak Tito menjelaskan perihal kekerasan berbasis gender online yang sedang marak diperbincangkan belakangan ini. Acara seminar hari ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan berdoa bersama.

Kekerasan telah menjadi hal yang marak dilakukan di mana saja, tidak terkecuali di lingkungan sekitar kita. Setelah mengenal berbagai bentuk kekerasan serta dampak yang dapat ditimbulkan, semoga kita dapat meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya menghindari kekerasan agar kita tidak menjadi pelaku maupun korban. Kita harus berani untuk melawan kekerasan ya sobat! Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Ditulis oleh Audrey Nirmala Citra Dewi dan Padma Ratna

 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini